Doroku Loft

Other Racing Pigeon Actually.

Another racing pigeon from Indonesia....

When we watched two male sprint pigeon flying, and trying as fast they can reaching their couple from about one km away. Using their energy, ability, flying style to be the first landed to their female which handed by jockeys.

Other type, flying high till we are hard to see them about 5-7 km away from the loft, and drop down to the loft like a stone falling from the sky. Usually they will fight each other in the sky to be the first catching their loft.

That's so amazing for me to be a part of this race coz it's our hobby.

Dakocan Story

Written by Plastik Bag on 8:33 AM

Salam andokan merpati balap....

Mumpung masih ingat, sebelum lupa, saya mencoba sedikit mengungkapkan uneg-uneg yang saya tahu tentang sejarah Dakocan, salah satu burung legendaris di Indonesia.

Pada suatu hari, sekitar tahun 1990an, Wardi bersama Sukar (waktu itu Wardi masih jadi pelepasnya Sukar), memilah-milah burung untuk disortir, kesemuanya ada 36 ekor burung sortiran hasil ternakan Ko Khe Yung di Bandung. Mau diapakan burung tersebut?, menurut Wardi, mau dipotong, makanya ditaruh di kantin dalam keranjang, semua siap dipotong.

Datanglah H. Ido secara kebetulan ke kandang Ko Khe Yung, dengar ada rombongan burung sortiran mau dipotong, H. Ido nyamperin ke kumpulan keranjang (dongdang) di kantin, dengan posisi jongkok, mulai satu persatu meraba-raba, memilih-milih, mencermati dan dari ke 36 ekor burung tersebut diambil 1 ekor saja, piyik kurang 5 lar, warna hitam lampik blantong, ekor ada putihnya, pakai jenggot putih, kepala ada warna putih sedikit. Kenapa memisahkan burung tersebut?, ternyata katuranggan atau perkakasnya bagus sekali, demikian H. Ido menyimpulkan, kenapa burung dengan pegangan sebagus ini mau dipotong?, Ko Khe Yung sendiri berkata "burung sudah sortiran itu, mau dipotong untuk dibagikan ke orang-orang", demikian kata Ko Khe Yung, namun H. Ido beranggapan lain, katanya "udah yang ini dilatih aja dulu, coba aja, masak pegangan begini nggak kepake?".

Burung hitam lampik tersebut akhirnya dijodohkan dan mulai dilatih, ternyata benar prediksi H. Ido, seperti diungkapkan oleh Ko Khe Yung, "gila, burung larinya kesetanan begitu, tembaknya ampun... luar biasa, mental udah kayak burung jadi aja". Akhirnya burung tersebut dilatih terus.... sampai dinamakan DAKOCAN, karena warna dan mukanya yang seram.

Bapaknya Dakocan adalah burung isimewa asal Malang, dulu milik Wahing, namanya SULTAN, yang membawa namanya Sdr. Suroso dari Malang ke Bandung. Burung ini masih darah Mercy-nya Wahing, bukan Mercy-nya Nyo Situbondo, kalau Mercy-nya Nyo Situbondo adalah darah dari Ciung, sedangkan Ciung adalah anak dari Leonard-nya Ching Sen tahun 1985an dulu.

Dakocan punya adik yang juga pernah ngetop, namanya BENTUL.

Setelah dewasa, burung ini dijodohkan dengan anak CARACA, keluar :
1. Puma milik Bebeng-Cirebon, burung ini sangatlah istimewa, paling bagus dari saudaranya.
2. Kuda Binal, galak mukul, larinya ngotot, tembaknya luar biasa, di Pura pernah keluar Tojaya 1-Tojaya 4.
3. Cakram, kakek Kelana laser, tahun 1998 pernah juara 1 nasional di Surabaya.
4. Zamorano, burung legendaris milik Kiking.
5. Batavia, burung legendaris milik Koneng Makita.
6. Road King, burung jawara pada masa Rencong.
7. Bazooka, burung jawara milik Hari Kuswara.
8. dan lain2 masih banyak

Dari perempuan anak CARACA ini rata-rata mengeluarkan shoot dan tembak yang keras, sehingga dijodohkan dengan Khayana, keluar :
1. Kelana 2
2. Galant
3. Kelana 3 dll

Di Cirebon, ada peternak papan atas, namanya Ko Yuyu, beliau dapet burung jantan diberi nama Pelor dari Pak Bandik asal Madura, seingat saya waktu diternak oleh Ko Yuyu, keluar 2 ekor kembar, satu Khayana, satu lagi belahannya hilang di Cirebon, sampai sekarang belahan Khayana tidak ada yang tahu dimana rimbanya.

Demikian uneg-uneg saya, mudah-mudahan belum hang, dan dapat sedikit membantu teman-teman yang mungkin ingin tahu juga tentang kisah sang DAKOCAN ini.

Salam andokan.....
SANGSANG

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book
  1. 0 comments: Responses to “ Dakocan Story ”